Kutip

Selaku penulis saya ini generalis, bukan spesialis. Saya menulis ikhwal apa saja yang lewat di depan mata. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul. ("Kesatria"; Kompas, 14 Juni 1985)
Tampilkan postingan dengan label 1987. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1987. Tampilkan semua postingan

Dialog


ARISAN para ibu tidaklah memerlukan perizinan apa pun. Baik dari instansi bahkan oleh suami masing-masing. Ini sungguh melegakan. Itu sebabnya bisa berlangsung kapan saja, baik saat hujan maupun saat panas. Forum itu amatlah menyenangkan, harum semerbak, seakan-akan ada botol parfum tumpah ke lantai. Begitu pula gaun yang melekat di badan, langsung direnggut dari balik kaca etalase. Kemudahan tanpa izin itu disebabkan karena anggapan arisan itu seratus persen nonpolitik. Apa betul? Mari kita saksikan sendiri.


Ny. Wati yang berkebaya ungu berbunga bakung berkata kepada rekan-rekannya betapa ia masygul belakangan ini. Masalahnya karena ia dijuluki “ekstrem kiri” oleh suaminya.
           “Ekstrem kiri? Apa pula itu maksudnya?” tanya Nyonya Lisa.
         “Entahlah. Boleh jadi karena aku senantiasa mengendus kemejanya setiap pulang kantor atau rapat, atau periksa jangan-jangan ada bercak-bercak bekas gincu atau apa. Kewaspadaan perlu, bukan”.
         “Tentu perlu, bahkan wajib. Lelaki itu mesti diteliti terus-terusan sebelum terlambat. Julukan “ekstrem kiri” itu kelewatan, bukan?" kata Ny. Wati seraya menjambret kue bolu.
           “Apa kamu pernah pergoki sesuatu?”
        “Tentu saja belum. Tapi itu bukan berarti segala sesuatu sudah sip. Soalnya lelaki itu orang cerdik. Inilah yang membuatku selalu senewen. Serba salah, punya laki bego membosankan, punya laki cerdik bisa celaka”.
          “Itu sudah resiko. Kawin itu seperti berbelanja di toko juga, kita mesti teliti sebelum membeli”.
         “Ah omong kosong. Mana sempat teliti-teliti segala? Kejadian berlangsung seperti gempa, tak seorang pun sempat begini atau begitu. Kalau nasihati kira-kira dong,” kata Ny. Wati.
            “Benar juga kamu itu. Aku sendiri waktu pacaran seperti orang kena sihir, tak ingat apa yang terjadi, eh tahu-tahu sudah punya mertua,” kata Ny. Lisa.
         “Dia sih tidak aneh-aneh. Lakiku itu itu tak habis-habisnya mengikuti seminar ini seminar itu, lokakarya ini lokakarya itu,. Ia amat serius. Barangkali model begitulah yang disebut pemikir. Kecuali...?”
          “Kecuali apa?”
     “Kecuali sering menyindirku dengan rupa-rupa sebutan. Kadang-kadang menyebutku “agen modernisasi”, kadang “motivator”, bahkan dengan sebutan yang tak kupahami sama sekali. Lucu bukan?” kata Ny. Lisa.
            “Kenapa begitu?”
         “Soalnya kecil saja. Kapan saja di mana saja ia senantiasa kutelepon. Mendengar suaranya saja sudah cukup. Ini yang namanya komunikasi timbal-balik.”
            “Atau mencek!”
            “Ya, atau mencek. Mencek dari waktu ke waktu itu penting, lho”.
            “Apa lakimu tidak jengkel?”
       “Mula-mula ia kelihatan senang. Tapi lama-lama memang dia jengkel dan sering diejek kawan-kawannya. Tapi, apa peduli? Mumpung zaman menyediakan telepon, kenapa tidak dipakai? Kita hidup dalam masa “revolusi komunikasi”, jangan sampai ketinggalan dong. Lagipula, kalau suami sekali sudah kehilangan jejak, tunggu saja malapetakan yang bakal menyusul”.
            “Betul juga kamu itu”.

MATAHARI sudah tinggi, arisan berjalan sempurna, artinya tanpa arah dan pimpinan sama sekali. Juadah dan goreng-gorengan terus beredar tak putus-putusnya. Pembicaraan pun dari satu perkara ke perkara lain. Baik dalam negeri maupun luar negeri. Sesekali ada pula yang coba-coba mengedepankan masalah ruang angkasa, karena bahan omongannya kelihatan kurang, segera lenyap begitu saja. Sedangkan yang tampak kurang selera hanyalah Ny. Rita. Dia yang paling langsing dari seantero hadirat, berkat diet sepuluh tahun terus menerus.
            “Apa ceritamu, Rita? Ngomong dong”.
            “Aku serupa, tapi tak sama”.
            “Apa itu?”
            “Kalau Ny. Wati itu dipanggil ekstrem kiri, aku masih mendingan. Suamiku pernah juga menyebutku ‘ekstrem kanan,” kata Ny. Rita.
            “Ada-ada saja kau ini,” seru hadirin serentak.
            “Duduk perkaranya sebetulnya sederhana saja. Setiap aku ambil barang, bonnya kusuruh tagih sama suami. Normal, bukan?”
            “Apa selalu dia lunasi?”
            “Tentu saja”.
            “Apa dia tidak ngomel?”
“Tentu saja ngomel, kalau kebanyakan”.
“Apa hubungannya dengan ‘ekstrem kanan’?”
“Kamu ini bagaimana sih, itu sebabnya barangkali ia menyebutku ‘ekstrem kanan”.
“Oh”.
Arisan pun selesai dengan mulus, mereka akan bertemu lagi bulan depan di tempat berbeda.

Asal Usul; Kompas, 29 November 1987

Melanggan artikel lewat email

Elly


            MEMBACA koran itu bukan seperti makan lemper yang sudah pasti enaknya. Misalnya, seringkali orang melewatkan halaman depan yang memuat ucapan-ucapan aneh dan klise. Misalnya, pembaca tidak tertarik lagi dengan istilah “penyesuaian”, karena kata itu sudah pasti berarti kenaikan harga, dan bukan sebaliknya. Seorang murid SD malahan punya usul yang amat progresif, bagaimana kalau lawan kata “turun” diganti saja dengan “sesuai”, dan bukannya naik.
            Bahkan, pembaca pun sering melewatkan kolom induk karangan karena dirasa terlampau canggih bahasanya sehingga sulit ditelan dan senantiasa nyangkut di tenggorokan. Lebih-lebih, masalah yang ditulis di situ seperti tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang banyak diperbincangkan khalayak baik di pasar maupun di bus-bus. Tidak sedikit orang beli koran dan langsung membaca iklan-iklan kematian, mencari tahu umur berapakah orang yang meninggal itu, sekadar membanding-bandingkan dengan umurnya sendiri sambil bertanya-tanya apakah dia sanggup bertahan hidup sampai seumur itu.
            Dan yang paling mengharukan pembaca adalah ketika ia membaca anjuran agar hidup sederhana. Hal ini sama sekali tidak bermaksud meremehkan atau menentang, melainkan ia sekadar tidak tahu bagaimana lagi cara menyederhanakan hidup yang sudah berabe ini. Ia beranggapan, andaikata hidupnya yang sudah begini mesti disederhanakan lagi, berarti tamatlah riwayatnya selaku manusia dan langsung masuk ke liang kubur, setidak-tidaknya merosot jadi gembel tulen. Soalnya bukan apa. Ia pengangguran, masuk keluar kantor hingga sepatu habis tiga pasang, dan tak satu pun bagian pegawai yang mau ambil pusing terhadap ijazah perguruan tinggi yang dikempit di ketiaknya. Dalam keadaan hidup yang sudah begitu berantakan dan tanpa harapan, dia betul-betul pening memikirkan bagaimana tekniknya hidup itu lebih disederhanakan lagi. Ingin rasanya ia menulis surat kepada redaksi surat kabar, minta sekadar juklaknya.

            AKAN halnya berita yang paling menarik perhatian adalah menyangkut Pengadilan Negeri Bandung yang menghadapkan 12 pelacur kelas “teri” seperti diberitakan oleh koran Pikiran Rakyat.  Berita itu lebih memikat dibanding berita tentang tanggapan-tanggapan terhadap calon DPRD atau tentang skandal baru terungkap di Amerika Serikat sekitar penjualan helikopter perang kepada Korea Utara sejumlah $ 40 juta. Apa anehnya ada pengusaha jual kepada Korea Utara jika presidennya sendiri menggulingkan pemerintahan Nikaragua yang sah? Apa anehnya murid kencing berlari jika guru kencing berdiri? Apa anehnya bawahan mencuri jika panutannya menggondol barang kantor dan ditumpuk di belakang kebunnya? Apa anehnya kawula jadi ngelantur jika pimpinannya sendiri ngomong ngalor dan perbuatan ngidul?
            Bahwa pembaca terpikat hatinya membaca berita pengadilan pelacur Alun-alun Bandung itu, bisa dilihat dari dialog antara hakim dengan terdakwa Elly umur 24 tahun.
            “Di mana kamu tinggal,” tanya hakim.
            “Saya tidak punya tempat tinggal,” jawab Elly.
            “Lho, kenapa bisa begitu?”
            “Saya tinggal di mana saja. Di kolong jembatan okey, di emper toko okey, sekali-kali juga di hotel.”
            “Apa agamamu?” tanya hakim.
            “Saya tidak punya agama,’ jawab Elly tegas.
            “Lho, tinggal di Indonesia kok tidak punya agama?”
            “Ya, saya sengaja tidak menyebut punya agama. Sebab, jika saya mengaku punya salah satu agama, selain Tuhan akan mengutuk, umatnya pun akan mencela.”
            “Kalau begitu kamu lebih pantas dibuang ke Moskow, ya?”
            “Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” jawab Elly berulang-ulang.
            “Nama orangtuamu siapa?”
            “Tidak tahu,” jawab Elly.
            “Masa nama orangtua sendiri tidak tahu?”
            “Habis, orangtua saya meninggal saat saya masih bayi.”
            “Lantas selama ini apa kerjamu?” tanya hakim.
            “Minum-minum, jalan-jalan, terus molor.”
            “Buat apa minum-minum?”
            “Menghilangkan derita, Pak Hakim,”
            “Kamu WTS, ya?”
            “Siapa bilang saya WTS! Saya minta saksi siapa saja di Bandung sini yang pernah pakai saya...”
            “Wah, mana ada lelaki yang mengaku?!” kata Hakim.
            Persis saat itu masuk dua saksi dari kepolisian, menerangkan bahwa Elly ditangkap di Alun-alun Bandung ketika mabuk sempoyongan.
            “Apa kamu mau insaf?” tanya hakim lembut.
            “Tidak, saya tidak pernah mau insaf, karena tidak pernah ada orang yang menginsafkan saya,” jawab Elly.
            Sesudah dialog itu, majelis hakim memutuskan terdakwa Elly dijatuhi denda Rp 3000 subsider tiga hari kurungan. Dengan gaya mantap dan penuh keyakinan diri, Elly merogoh saku, melempar gulungan uang ribuan ke atas meja hijau. Elly yang bercelana panjang cokelat dan berbaju merak itu kemudian meninggalkan ruang sambil melambai-lambaikan tangan seraya berkata nyaring, “Hidup WTS!” Hadirin tertawa senang melihat pemandangan itu.

(Asal Usul; Kompas, 1 Maret 1987)

Melanggan artikel lewat email

“Status Quo”


SEORANG nyonya beratnya 58 kg 6 ons. Ia ingin tetap seberat itu kalau bisa hingga meninggal dunia. Tiap menghadapi meja makan ia teliti dengan matanya yang bundar, piring demi piring, agar jangan ikut tersuap makanan yang bisa bikin gemuk, persis seperti arkeolog memeriksa tengkorak. Tiap pagi dan sore nyonya berjingkrak-jingkrak, menggelepar-gelepar, rebah dan bangun serta berguling-guling, menjaga kondisi badan. Ini artinya nyonya menjaga status quo pada berat 58 kg 6 ons, tidak lebih dan tidak kurang. Dan karena kondisi badan bukan cuma ditentukan oleh makanan melainkan pikiran, nyonya tidak sudi diganggu dengan beban pikiran yang tidak perlu. Itu sebabnya ia mengambil sikap liberal dalam keluarga, artinya tidak ambil pusing berapa kali suaminya seminat atau rapat kerja dalam seminggu, walau di hatinya bertanya-tanya, buat apa sebetulnya rapat sesering itu. Maka dari itu, nyonya sehat bagaikan seekor ikan bandeng.
Seorang lurah juga menginginkan adanya status quo di daerahnya agar senantiasa tenteram dan tenang, tiada riak apalagi gelombang, seperti halnya sebuah akuarium. Satu-satunya cara untuk menghasilkan suasana status quo seperti itu adalah berusaha agar semua orang punya pendapat seragam dengan pendapatnya, semua langkah dan sepak terjang mesti pas dengan ukuran yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Sekecil apa pun perbedaan pendapat yang timbul, dianggapnya seperti ada gempa yang bisa mengganggu kampung. Lurah menjaga kondisi status quo begitu cermatnya seperti orang menjunjung botol di atas kepala. Begitu sempurnanya keadaan status quo itu tercipta, sehingga suasana kampung amat tenteram sehingga dari jarak satu kilometer kampung itu kelihatannya seperti sedang tertidur baik malam ataupun siang. Menurut lurah, lebih bagus penduduk kelihatan tertidur daripada berisik. Berhubung penduduk tidak punya pilihan lain daripada kehidupan yang amat rutin, maka lurah senantiasa tampak anggun bagaikan seorang dewa format kampung.

SETIAP jenasah mau berangkat dari rumah duka, wakil keluarga berdiri di ambang pintu beri sambutan. Berterima kasih kepada para pelayat, minta dimaafkan andaikata yang meninggal ada kesalahan baik disengaja atau tidak, dan kalau ada baik utang atau piutang dari almarhum, harap berhubungan dengna ahli waris untuk diselesaikan sebagaimana mestinya. Sesudah itu jenasah diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir diiringi sedu sedan dan deraian air mata.
Ke tempat peristirahatan terakhir? Itu dulu. Sekarang bisa saja peristirahatan itu bukanlah yang terakhir. Kuburan tidak bisa lagi dianggap status quo tanpa batas. Sebab, ada kuburan yang harus dibongkar dan dipindahkan karena tempatnya buat rumah susun, seperti terjadi di Karet, Jakarta. Tulang-tulang mayat yang sudah berdiam di sana puluhan tahun dibungkus rapi dan dibawa pindah ke wilayah pekuburan lain, misalnya di Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Apakah ini juga tempat peristirahatan terakhir? Belum tentu. Sebab, ada makam famili saya pindahan dari kuburan Karet, mesti pindah lagi ke tempat lain karena akan dijadikan jalan intern. Ini berarti, hukum kedinamisan dan mobilitas juga masih berlaku buat orang yang sudah meninggal dunia. Kondisi status quo bagi si jenasah masih bisa ditinjau sewaktu-waktu. Mengapa bisa begitu? Hanya gubernur atau wali kota dan dinas pemakaman saja yang mampu menafsirkan bagaimana mestinya “tempat peristirahatan terakhir” itu, tanpa harus pindah kian-kemari.

BERBEDA dengan manusia (walau sudah jadi jenasah) yang masih terbuka untuk penggusuran, tidak demikian halnya dengan binatang. Keadaan lebih mapan dan terjamin. Misalnya, menteri Emil Salim menginginkan agar kita bangsa manusia menaruh kasih dan sayang kepada binatang, karena itu kebun binatang harus diperlihara status quo-nya, jangan dihalau untuk keperluan lain. Dekat jauhnya kalbu manusia dengan binatang merupakan tolok ukur tinggi rendahnya kebudayaan. Makin bagus perikebinatangan seseorang, makin tinggi perikemanusiaannya. Bila seseorang menggebuki orang hingga terampun-ampun, boleh jadi tidak jadi pembicaraan umum. Tapi bila ia menghajar seekor anjing hingga terkaing-kaing, maka orang menganggapnya biadab. Menggebuki orang bisa disandarkan rupa-rupa dalih, hal yang tak bisa dilakukan terhadap seekor anjing.
Semua koruptor adalah bangsat sosial, tapi koruptor yang memelihara enam ekor kucing ras dan sepuluh ekor kuda masih lebih bagus ketimbang koruptor yang tidak memelihara apa-apa kecuali memperkuda penduduk sekampung. Seorang manusia bisa saja keluyuran tanpa tempat berteduh dan orang lain pun, tapi hal demikian tak bisa terjadi pada seekor gajah atau monyet. Memang, keharusan melindungi gajah atau monyet tidak tercantum di dalam konstitusi, berbeda misalnya dengna fakir miskin, tapi dalam praktek justru binatang itu lebih mendapat perhatian yang memadai. Manusia tanpa rumah dianggap biasa-biasa, tapi gajah tanpa hutan dianggap luar biasa.
Pandangan status quo atas kebun binatang ini membuat Indonesia sedikit lebih maju, mendekati Inggris yang (walau buruk selaku kolonial) menaruh rasa sayang yang tinggi kepada binatang, sehingga kucing Itali atau angsa Perancis yang dianggap tolol itu layak merasa iri dengan teman sebangsanya di Inggris. Bukankah orang Inggris tidak merasa kikuk dan rendah diri makan semeja dan tidur sebantal dengan binatang kesayangannya, seakan-akan binatang itu saudara sepupunya sendiri? Berbeda jika perbuatan itu dilakukan terhadap manusia yang berbeda kulit.
Tapi, biarpun orang Inggris amat kasih kepada binatang, bukan berarti binatang tidak menaruh dendam kepada mereka. Binatang-binatang itu menganggap, di balik sayang terselip maksud perbudakan. Karena itu, atas hasutan binatang babi, para binatang pada suatu saat bisa tergugah lewat semboyan “Seluruh binatang Inggris, bersatulah!”, dan menumbangkan kekuasaan manusia serta mendirikan “Republik Binatang”. Akan tetapi, sesudah penumbangan kekuasaan manusia itu, binatang babi malah angsur-berangsur menjadi otoriter dan memerintah sesama binatang lebih keras dan tidak demokratis dibanding manusia sendiri. Begitulah menurut cerita fiktif Binatangisme atau Animal Farm karya George Orwell, seorang wartawan dan satiris, yang juga menulis buku 1984 yang terkenal di dunia.

(Asal Usul; Kompas, 16 Agustus 1987)

Melanggan artikel lewat email

Reinkarnasi


DARI seratus sisi pisang, pasti satu dua ada yang dempet. Begitu pula halnya pada keluarga manusia. Yang hidup senang harta melimpah cukup banyak, langkahnya enteng seperti jalan di awan, saking melimpahnya sehingga suatu saat kepingin juga rasanya hidup sederhana dan kelihatan seperti gembel. Hanya saja, keinginan itu tidak mudah dicapai, karena memang kemiskinan tidak bisa dibikin-bikin. Lebih gampang berlagak kaya daripada berlagak kere. Akan kelihatan sedikit kikuk bagi mereka yang tidak terlatih.
Yang jadi bahan pembicaraan sekarang ini bukan orang yang berlagak kere, orang-orang yang sudah mulai bosan hidup dalam kecukupan tak terhingga, melainkan mereka yang betul-betul kepepet dan sumpek luar biasa, hingga bicaranya gagap dan gusinya biru, dan sekali waktu ada terlintas keinginan bunuh diri. Maksud ini belum kesampaian bukan karena sudah insyaf, melainkan kurang punya keberanian. Sebab, bunuh diri itu kata orang hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya keberanian luar biasa. Orang-orang penakut memilih lebih baik meneruskan hidup walaupn dengan susah payah, dan walaupun sama sekali kurang terhormat.
            Begitulah, orang-orang kepepet dan sumpek serta gamang ini pada suatu waktu berkumpul di gardu hansip, bukan karena bersepakat mereka berbareng ada di sana, melainkan karena masing-masing tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Menurut bahasa koran, mereka ini tidak punya alternatif. Jika diamati rupa-rupa sebab yang membuat mereka dalam kondisi sumpek yang sangat itu. Ada yang disebabkan karena kena pehaka, semacam mesin yang mampu melindas harga diri seseorang hingga hancur lebur, dan yang bersangkutan bisa merasa lebih rendah dari kerbau. Ada yang disebabkan bosnya korup bukan alang kepalang, dan bukan saja karena ia tidak kebagian, melainkan sebagai gantinya ia dibikin kenyang dengan rupa-rupa pengarahaan dan petuah. Dan lainnya lagi merasa amat sumpek karena alasan materi, karena di bidang ini ia sebagai kepala bagian umum sudah berkecukupan serta akrab dengan relasi luar, melainkan karena isterinya kelewat cerewet dan cemburuan ditambah lagi dengan mertuanya yang berpembawaan seorang detektif.
            Namanya saja orang sumpek dan kepepet, bisalah dimaafkan jika punya pikiran yang bukan-bukan. Misalnya yang menimpa tokoh pengangguran kita. Ia amat kepingin dan merasa sanggup jadi menteri tapi tidak tahu bagaimana caranya. Seumur-umur tak pernah membaca juklaknya. Misalnya yang menimpa tokoh karyawan kita. Ia nyaris ludes beli kupon Porkas tapi tak sekali pun kena. Sekarang kupon bekas ia longgok untuk kenangan anak cucu. Akan halnya tokoh yang keluarganya tidak beruntung, kepingin rasanya ia jadi penyair namun bakatnya kurang memadai. Sekali ada tersusun satu dua bait, tapi tak seorang pun paham maksudnya, dan kertas itu ia campakkan dalam sumur.
            Berhubung rasa sumpek dan kepepet itu terus saja berlanjut dari tingkat ke tingkat yang lebih dalam, maka akhirnya terlintas dalam pikiran masalah langka seperti reinkarnasi, penjelmaan kembali sesudah mati dalam bentuk baru yang (siapa tahu) bisa lebih longgar dan lega. Kalau orang Irlandia kuno percaya bahwa para pahlawan yang mati bisa menjelma lagi ke dalam anak-anak orok yang baru lahir, kalau orang Yunani macam Pythagoras atau Empedocles percaya bahwa para almarhum bisa muncul kembali ke dalam hewan atau tumbuh-tumbuhan, mengapa kita tidak coba-coba memilih jadi apakah kita gerangan kelak? Maka orang-orang sumpek dan kepepet itu sibuk berdiskusi hingga terkantuk-kantuk.
            Ada yang memilih mendingan nanti menjelma jadi hewan saja, sebab hewan tidak pernah sumpek dan kepepet. Hewan itu tidak berpolitik, karenanya tidak pernah tahu mana yang hak dan mana yang batil. Hewan itu makhluk mengambang, karena ia berpikir lewat usus dan perutnya. Pertengkaran muncul ketika menentukan jadi binatang apa gerangan baiknya. Tokoh pengangguran yang kena pehaka memilih jadi kuda, karena merasa mendingan diperkuda daripada tidak punya kerjaan sama sekali. Sedang tokoh yang rumah tangganya ruwet memilih jadi burung gereja saja, karena tidak ada binatang yang lebih bebas dari jenis ini, dibedil tidak, dilindungi tidak, ditangkap tidak, diperjualbelikan juga tidak, bahkan kucingpun tak sudi menggigitnya. Burung itu namanya gereja, tapi bukan berarti adanya cuma di gereja. Ia misalnya bisa saja ada di mesjid atau langgar. Dengan kata kiasan burung itu biasa disebut: ada di mana-mana atau tidak ada di mana-mana. Kedengarannya sedikit ganjil, tapi begitulah adanya.
            Ketika tokoh karyawan yang nelangsa itu jatuhkan ia punya pilihan, terjadi sedikit kegemparan. Soalnya, dalam hubungan reinkarnasi ini, pegawai itu lebih suka jadi tumbuh-tumbuhan saja, boleh batang singkong boleh kembang sepatu. Ketika ditanya mengapa tidak pilih pohon duren atau mahoni saja, ia jawab jadi pohon apa saja boleh, asal saja keadaannya bisa lebih baik dari sekarang ini. Kendati hampir tak masuk akal di suatu saat kelak ia akan muncul kembali dalam bentuk pepohonan, namun lamunan-lamunan semacam itu sudah cukup menghibur.  Diam-diam timbul rasa kagum luar biasa kepada orang Yunani purba itu, kok bisa-bisanya punya pandangan begitu jauh.
           
ESOK harinya keadaan berubah. Tak ada lagi yang coba-coba berniat menjadi menteri, karena dianggap percuma saja. Tak ada lagi yang disebut-sebut mau jadi penyair, karena tampaknya penyair profesional sendiri banyak yang pindah lapangan. Dan tak ada lagi yang bicara soal reinkarnasi, baik jadi kuda atau apa saja. Saolnya bukan apa, soalnya orang-orang sumpek dan kepepet itu sudah meningkat jadi pasrah. Karena namanya pasrah, maka tentu tidak ada lagi yang perlu diceritakan. Karena sudah sama pasrah, maka segala yang sumpek dan kepepet ditelannya belaka tanpa dikunyah.

(Asal-usul; Kompas, 7 Juni 1987)

Sebutan


Sejak dunia berkembang, hanya ada Kecap No. 1. Seumur hidup saya tidak pernah dengar ada kecap No. 2. Sedangkan “ngecap” dimaksud omong kosong, bual besar, berlebihan, bagus kulitnya tapi menipu tujuannya. Jika seorang bicara masalah pemerataan pendapatan atau keadilan sosial sambil duduk-duduk di kursi goyang di rumah yang berlantaikan marmer serta dikawal lima ekor anjing ras, boleh jadi dia ngecap. Atau jika seorang bicara demokrasi sambil memiting leher orang lain dan menjejali kerongkongannya dengan serbuk gergaji hingga megap-megap, boleh jadi dia ngecap. Atau kalau seorang bicara Pancasila sambil bawa kelewang di tangan, boleh jadi dia ngecap.
Kecap cuma satu sebutan, berbeda dengan wartawan. Sedikitnya mereka punya tiga sebutan. Ada yang menyebutnya “kuli tinta”, ada yang menyebutnya “nyamuk pers”, dan ada pula “ratu dunia”. Sebutan “kuli tinta” biasa dikenakan kepada wartawan yang amat dekat hubungannya dengan Humas, seperti dekatnya menantu dengan mertua, sehingga orang sulit membedakan mana yang wartawan dan mana Humas. Interaksi keduanya sudah sempurna betul. Iklim penuh tanggung jawab sudah komplet terjamin. Wartawan famili Humas ini tentu menulis juga sebagaimana biasanya, tapi yang ditulis lebih sedikit dari yang diketahuinya.
            Sebutan “nyamuk pers” biasanya dialamatkan kepada wartawan yang tak bisa duduk diam, senantiasa dalam keadaan gatal, dan kepingin mengubah dunia dengan sekali kibas, sementara ia sendiri tidak mengalami perubahan fisik yang berarti. Sebagian orang menyebutnya idealis, sebagian lagi menganggapnya orang tolol yang mestinya lahir 50 tahun yang lalu. Tak seorangpun tahu, apa sebab ia dipersamakan dengan binatang keji itu, tapi ditelannya tanpa perasaan amarah. Bagaimanapun, nyamuk masih lebih berbobot ketimbang kecoak, bahkan lebih mulia dibanding kadal atau bengkarung.
            Sebutan lainnya tentu saja “ratu dunia”. Ini sebutan yang paling lumayan, walau kedengaran berlebihan. Sangat boleh jadi, lantaran sebutan inilah rupanya bnayak orang memilih wartawan sebagai profesinya, sesudah gagal melamar kerja di kantor douane atau urusan logistik. Kapankah kita bisa berjumpa dengan “ratu dunia” yang istimewa ini? Gampang saja: persis hari korannya ditutup oleh satu dan lain sebab.
            Berbagai macam sebutan juga terjadi di dunia mobil bekas. Misalnya, kita dianjurkan jangan beli mobil “bekas jurkam”, apalagi persis lepas kampanye. Mobil itu sudah pasti sebuah mobil yang lelah, yang pegal maupun linu, akibat dipakai menjerit kian kemari, demi demokrasi, demi perdamaian dunia, demi mencegah perang bintang, demik kemakmuran penduduk, paling sedikit demi kepentingan jurkam yang bersangkutan. Semakin banyak program yang ditawarkan, semakin banyak mobil itu dipakai kian kemari. Memang belum tentu program itu akan dilaksanakan sebagaimana bunyi janji, tapi yang sudah pasti mobil yang bersangkutan sudah rapuh sendi-sendinya.
            Sebaliknya kita anjurkan beli mobil “bekas dokter”, karena pada umumnya tidak akan menimbulkan rasa kecewa. Dokter, sebagaimana makelar, memang memakai mobil sebagaimana layaknya. Tapi, penggunaannya amat berkemanusiaan, lebih banyak diparkir dibanding menggelinding di jalan raya. Sebab, dokter hanya bergerak dari rumah tinggal ke rumah sakit serta rumah praktek, dan berdiam di sana hingga larut malam, jauh melampaui batas waktu yang terpampang di papan.
            Berbeda dengan dokter-dokter zaman dulu yang sedikit kuno, dokter zaman sekarang kurang begitu suka mendatangi panggilan ke rumah pasien, kecuali barangkali bila pasien itu tertimpa sebuah kapal terbang. Akibat logis dari mobilitas yang tak seberapa ini, mobil bekas pakainya pun nyaris tidak mengalami cedera yang berarti, segala sesuatu masih tersangkut pada cantelan, segala sistem masih berjalan sebagaimana mestinya.
            Akan halnya politisi “bekas parlemen”, yang pasti banyak terdapat setiap habis pemilu, akan disambut penduduk sepulangnya di kampung masing-masing, disambut dengan tangan terbuka sebagaimana mestinya menyambut jubir yang baru saja kembali dari perjuangan habis-habisan membela kepentingan rakyat dengan segenap anak bininya. Para bekas jenis ini pun masih diminta dengan hormat untuk membuka suaranya, mengumandangkan hati nurani penduduk, khusus menyangkut masalah-masalah yang lupa dilontarkan saat masih di gendung perwakilan. Sifat lupa bisa menimpa siapa saja dan di mana saja, tidak kecuali anggota parlemen, sejauh mereka sebangsa manusia juga. Entah apa sebabnya, banyak bukti menunjukkan, suara para bekas ini jauh lebih nyaring dibading mereka yang masih berada dalam gedung, boleh jadi disebabkan adanya pengaruh sinar matahari.
            Apakah penduduk akan menertawakan sikap mereka yang aneh itu? Apakah penduduk akan mengungkit-ungkit kealpaan yang diperbuat di masa lampau? Apakah penduduk akan mengumpat-umpat dan minta ganti rugi? Sama sekali tidak. Penduduk pemilik hak suara itu, yang kekuatannya bisa memindahkan tujuh gunung, pada dasarnya orang-orang baik-baik, orang yang persediaan ikhlasnya berlimpah-limpah, orang pemaaf luar biasa. Para politisi “bekas parlemen” yang masih diminta buka suara itu dengan anggunnya tegak berdiri di atas drum kosong yang dijungkirkan, memulai khotbanya dengan mantap, dan penduduk bersila mendengarkan di sela-sela pohon singkong.

(Asal-usul; Kompas, 15 Pebruari 1987)


Melanggan artikel lewat email