Kutip

Selaku penulis saya ini generalis, bukan spesialis. Saya menulis ikhwal apa saja yang lewat di depan mata. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul. ("Kesatria"; Kompas, 14 Juni 1985)

Elly


            MEMBACA koran itu bukan seperti makan lemper yang sudah pasti enaknya. Misalnya, seringkali orang melewatkan halaman depan yang memuat ucapan-ucapan aneh dan klise. Misalnya, pembaca tidak tertarik lagi dengan istilah “penyesuaian”, karena kata itu sudah pasti berarti kenaikan harga, dan bukan sebaliknya. Seorang murid SD malahan punya usul yang amat progresif, bagaimana kalau lawan kata “turun” diganti saja dengan “sesuai”, dan bukannya naik.
            Bahkan, pembaca pun sering melewatkan kolom induk karangan karena dirasa terlampau canggih bahasanya sehingga sulit ditelan dan senantiasa nyangkut di tenggorokan. Lebih-lebih, masalah yang ditulis di situ seperti tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang banyak diperbincangkan khalayak baik di pasar maupun di bus-bus. Tidak sedikit orang beli koran dan langsung membaca iklan-iklan kematian, mencari tahu umur berapakah orang yang meninggal itu, sekadar membanding-bandingkan dengan umurnya sendiri sambil bertanya-tanya apakah dia sanggup bertahan hidup sampai seumur itu.
            Dan yang paling mengharukan pembaca adalah ketika ia membaca anjuran agar hidup sederhana. Hal ini sama sekali tidak bermaksud meremehkan atau menentang, melainkan ia sekadar tidak tahu bagaimana lagi cara menyederhanakan hidup yang sudah berabe ini. Ia beranggapan, andaikata hidupnya yang sudah begini mesti disederhanakan lagi, berarti tamatlah riwayatnya selaku manusia dan langsung masuk ke liang kubur, setidak-tidaknya merosot jadi gembel tulen. Soalnya bukan apa. Ia pengangguran, masuk keluar kantor hingga sepatu habis tiga pasang, dan tak satu pun bagian pegawai yang mau ambil pusing terhadap ijazah perguruan tinggi yang dikempit di ketiaknya. Dalam keadaan hidup yang sudah begitu berantakan dan tanpa harapan, dia betul-betul pening memikirkan bagaimana tekniknya hidup itu lebih disederhanakan lagi. Ingin rasanya ia menulis surat kepada redaksi surat kabar, minta sekadar juklaknya.

            AKAN halnya berita yang paling menarik perhatian adalah menyangkut Pengadilan Negeri Bandung yang menghadapkan 12 pelacur kelas “teri” seperti diberitakan oleh koran Pikiran Rakyat.  Berita itu lebih memikat dibanding berita tentang tanggapan-tanggapan terhadap calon DPRD atau tentang skandal baru terungkap di Amerika Serikat sekitar penjualan helikopter perang kepada Korea Utara sejumlah $ 40 juta. Apa anehnya ada pengusaha jual kepada Korea Utara jika presidennya sendiri menggulingkan pemerintahan Nikaragua yang sah? Apa anehnya murid kencing berlari jika guru kencing berdiri? Apa anehnya bawahan mencuri jika panutannya menggondol barang kantor dan ditumpuk di belakang kebunnya? Apa anehnya kawula jadi ngelantur jika pimpinannya sendiri ngomong ngalor dan perbuatan ngidul?
            Bahwa pembaca terpikat hatinya membaca berita pengadilan pelacur Alun-alun Bandung itu, bisa dilihat dari dialog antara hakim dengan terdakwa Elly umur 24 tahun.
            “Di mana kamu tinggal,” tanya hakim.
            “Saya tidak punya tempat tinggal,” jawab Elly.
            “Lho, kenapa bisa begitu?”
            “Saya tinggal di mana saja. Di kolong jembatan okey, di emper toko okey, sekali-kali juga di hotel.”
            “Apa agamamu?” tanya hakim.
            “Saya tidak punya agama,’ jawab Elly tegas.
            “Lho, tinggal di Indonesia kok tidak punya agama?”
            “Ya, saya sengaja tidak menyebut punya agama. Sebab, jika saya mengaku punya salah satu agama, selain Tuhan akan mengutuk, umatnya pun akan mencela.”
            “Kalau begitu kamu lebih pantas dibuang ke Moskow, ya?”
            “Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” jawab Elly berulang-ulang.
            “Nama orangtuamu siapa?”
            “Tidak tahu,” jawab Elly.
            “Masa nama orangtua sendiri tidak tahu?”
            “Habis, orangtua saya meninggal saat saya masih bayi.”
            “Lantas selama ini apa kerjamu?” tanya hakim.
            “Minum-minum, jalan-jalan, terus molor.”
            “Buat apa minum-minum?”
            “Menghilangkan derita, Pak Hakim,”
            “Kamu WTS, ya?”
            “Siapa bilang saya WTS! Saya minta saksi siapa saja di Bandung sini yang pernah pakai saya...”
            “Wah, mana ada lelaki yang mengaku?!” kata Hakim.
            Persis saat itu masuk dua saksi dari kepolisian, menerangkan bahwa Elly ditangkap di Alun-alun Bandung ketika mabuk sempoyongan.
            “Apa kamu mau insaf?” tanya hakim lembut.
            “Tidak, saya tidak pernah mau insaf, karena tidak pernah ada orang yang menginsafkan saya,” jawab Elly.
            Sesudah dialog itu, majelis hakim memutuskan terdakwa Elly dijatuhi denda Rp 3000 subsider tiga hari kurungan. Dengan gaya mantap dan penuh keyakinan diri, Elly merogoh saku, melempar gulungan uang ribuan ke atas meja hijau. Elly yang bercelana panjang cokelat dan berbaju merak itu kemudian meninggalkan ruang sambil melambai-lambaikan tangan seraya berkata nyaring, “Hidup WTS!” Hadirin tertawa senang melihat pemandangan itu.

(Asal Usul; Kompas, 1 Maret 1987)

Melanggan artikel lewat email

Tidak ada komentar:

Posting Komentar