Kutip

Selaku penulis saya ini generalis, bukan spesialis. Saya menulis ikhwal apa saja yang lewat di depan mata. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul. ("Kesatria"; Kompas, 14 Juni 1985)

Dialog


ARISAN para ibu tidaklah memerlukan perizinan apa pun. Baik dari instansi bahkan oleh suami masing-masing. Ini sungguh melegakan. Itu sebabnya bisa berlangsung kapan saja, baik saat hujan maupun saat panas. Forum itu amatlah menyenangkan, harum semerbak, seakan-akan ada botol parfum tumpah ke lantai. Begitu pula gaun yang melekat di badan, langsung direnggut dari balik kaca etalase. Kemudahan tanpa izin itu disebabkan karena anggapan arisan itu seratus persen nonpolitik. Apa betul? Mari kita saksikan sendiri.


Ny. Wati yang berkebaya ungu berbunga bakung berkata kepada rekan-rekannya betapa ia masygul belakangan ini. Masalahnya karena ia dijuluki “ekstrem kiri” oleh suaminya.
           “Ekstrem kiri? Apa pula itu maksudnya?” tanya Nyonya Lisa.
         “Entahlah. Boleh jadi karena aku senantiasa mengendus kemejanya setiap pulang kantor atau rapat, atau periksa jangan-jangan ada bercak-bercak bekas gincu atau apa. Kewaspadaan perlu, bukan”.
         “Tentu perlu, bahkan wajib. Lelaki itu mesti diteliti terus-terusan sebelum terlambat. Julukan “ekstrem kiri” itu kelewatan, bukan?" kata Ny. Wati seraya menjambret kue bolu.
           “Apa kamu pernah pergoki sesuatu?”
        “Tentu saja belum. Tapi itu bukan berarti segala sesuatu sudah sip. Soalnya lelaki itu orang cerdik. Inilah yang membuatku selalu senewen. Serba salah, punya laki bego membosankan, punya laki cerdik bisa celaka”.
          “Itu sudah resiko. Kawin itu seperti berbelanja di toko juga, kita mesti teliti sebelum membeli”.
         “Ah omong kosong. Mana sempat teliti-teliti segala? Kejadian berlangsung seperti gempa, tak seorang pun sempat begini atau begitu. Kalau nasihati kira-kira dong,” kata Ny. Wati.
            “Benar juga kamu itu. Aku sendiri waktu pacaran seperti orang kena sihir, tak ingat apa yang terjadi, eh tahu-tahu sudah punya mertua,” kata Ny. Lisa.
         “Dia sih tidak aneh-aneh. Lakiku itu itu tak habis-habisnya mengikuti seminar ini seminar itu, lokakarya ini lokakarya itu,. Ia amat serius. Barangkali model begitulah yang disebut pemikir. Kecuali...?”
          “Kecuali apa?”
     “Kecuali sering menyindirku dengan rupa-rupa sebutan. Kadang-kadang menyebutku “agen modernisasi”, kadang “motivator”, bahkan dengan sebutan yang tak kupahami sama sekali. Lucu bukan?” kata Ny. Lisa.
            “Kenapa begitu?”
         “Soalnya kecil saja. Kapan saja di mana saja ia senantiasa kutelepon. Mendengar suaranya saja sudah cukup. Ini yang namanya komunikasi timbal-balik.”
            “Atau mencek!”
            “Ya, atau mencek. Mencek dari waktu ke waktu itu penting, lho”.
            “Apa lakimu tidak jengkel?”
       “Mula-mula ia kelihatan senang. Tapi lama-lama memang dia jengkel dan sering diejek kawan-kawannya. Tapi, apa peduli? Mumpung zaman menyediakan telepon, kenapa tidak dipakai? Kita hidup dalam masa “revolusi komunikasi”, jangan sampai ketinggalan dong. Lagipula, kalau suami sekali sudah kehilangan jejak, tunggu saja malapetakan yang bakal menyusul”.
            “Betul juga kamu itu”.

MATAHARI sudah tinggi, arisan berjalan sempurna, artinya tanpa arah dan pimpinan sama sekali. Juadah dan goreng-gorengan terus beredar tak putus-putusnya. Pembicaraan pun dari satu perkara ke perkara lain. Baik dalam negeri maupun luar negeri. Sesekali ada pula yang coba-coba mengedepankan masalah ruang angkasa, karena bahan omongannya kelihatan kurang, segera lenyap begitu saja. Sedangkan yang tampak kurang selera hanyalah Ny. Rita. Dia yang paling langsing dari seantero hadirat, berkat diet sepuluh tahun terus menerus.
            “Apa ceritamu, Rita? Ngomong dong”.
            “Aku serupa, tapi tak sama”.
            “Apa itu?”
            “Kalau Ny. Wati itu dipanggil ekstrem kiri, aku masih mendingan. Suamiku pernah juga menyebutku ‘ekstrem kanan,” kata Ny. Rita.
            “Ada-ada saja kau ini,” seru hadirin serentak.
            “Duduk perkaranya sebetulnya sederhana saja. Setiap aku ambil barang, bonnya kusuruh tagih sama suami. Normal, bukan?”
            “Apa selalu dia lunasi?”
            “Tentu saja”.
            “Apa dia tidak ngomel?”
“Tentu saja ngomel, kalau kebanyakan”.
“Apa hubungannya dengan ‘ekstrem kanan’?”
“Kamu ini bagaimana sih, itu sebabnya barangkali ia menyebutku ‘ekstrem kanan”.
“Oh”.
Arisan pun selesai dengan mulus, mereka akan bertemu lagi bulan depan di tempat berbeda.

Asal Usul; Kompas, 29 November 1987

Melanggan artikel lewat email

2 komentar:

  1. ini maksudnya ekstrem kanan itu suka telat mikir dan ga bisa ambil kesimpulan ya?? hehehe menarik....

    BalasHapus
  2. Esai ini ditulis saat Orba di puncak kuasa. Salah satu cara Orba menyerang para oposisi adalah dengan menstigma pengkritiknya, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Mungkin itu yang ingin ditunjukkan Mahbub.

    BalasHapus