Kutip

Selaku penulis saya ini generalis, bukan spesialis. Saya menulis ikhwal apa saja yang lewat di depan mata. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul. ("Kesatria"; Kompas, 14 Juni 1985)

Mengapa Tidak


Sarimin dan Khou Kek Beng berasal dari Jepara. Ketika masih sama-sama kere, mereka akur bagai sepasang kaztak dari satu liang. Hari demi hari, terasa keganjilan. Sarimin hidupnya terengah-engah, Khou Kek Beng sebaliknya. Sarimin masih bergulat di kaki lima, Khou Kek Beng sudah punya toserba. Sarimin gagal peroleh kredit KIK walau sudah menyembah-nyembah hingga jidatnya terantuk tanah, Khou Kek Beng peroleh kredit besar hanya dengan kerdipan mata. Hidup Khou seperti bertengger di awan, hidup Sarimin tetap dalam lubang yang dulu.

Mulanya Sarimin menganggap ini semata-mata suratan nasib, karena itu tidak perlu jadi pikiran besar. Tapi karena jarak keduanya makin melebar, Sarimin merasa ada yang tidak beres. Ini pasti ada manipulasi garis-garis yang sudah ditentukan dari langit. Sedikitnya, ada penyimpangan sistem. Makanya ia mulai membenci Khou, kalau bisa malah kepingin menyiramnya dengan air comberan. Keakuran massa Jepara berubah menjadi kebencian etis. Sarimin suka berdiri di muka kaca, memerikasa warna kulit, meneliti lebar mata, membanding-banding letak geraham, bahkan menghitung-hitung jumlah bulu. Ya, memang ada beda dia dengan Khou, memang ada beda kaki lima dengan toserba.

Khou Kek Beng merasakan betul perubahan itu. Baiklah Sarimin, katanya pada suatu hari. Mulai nanti sore namaku kuganti menjadi Paijo; aku mau kawin sama Inem, gadis centil teman naik kebo tempo hari, asal saja kamu stop perbuatan berdiri di muka cermin, stop menganggapku keturunan tuyul, stop membenciku seakan aku ini seekor biawak. Hanya saja, mengharap agar aku kembali jadi kere rasanya sulit. Kamu kira pekerjaan gampang buat seorang pengusaha toserba berubah jadi kere dalam semalam? Ini memerlukan seminar berbulan-bulan. Sarimin tidak ambil pusing, dia tetap mengumpat hingga timbangan badannya turun dan gusinya bengkak. Dia ingin gantung diri, tapi tidak punya keberanian.

Kisah dua hamba Allah ini sampai ke kuping Yayasan Prasetya Mulya yang gedungnya baru saja diresmikan di Jakarta, dan pada waktu yang hampir berbarangan sampai pula ke telinga Dr. Mubyarto di Universitas Gadjah Mada sana. Keduanya merenung semalam suntuk, dan keduanya sampai pada kesimpulan: masalahnya bukan terletak pada beda etnis; masalahnya terletak pada kesenjangan sosial ekonomis.

Tak ada itu benci rasial; yang ada kecemburuan akibat tingkat hidup berbeda. Percuma saja Sarimin berdiri di muka kaca periksa beda lebar mata dan warna kulit dan jumlah bulu – karena selain tidak memecahkan soal, juga kedengarannya primitif. Percuma saja Khou Kek Beng ganti nama dan persunting Inem baik penumpak kebo ataupun macan. Khou Kek Beng atau Paijo, Inem atau non Inem, sama saja dilihat dari arah bintang.

Jadi bagaimana? Yayasan Prasetya Mulya pimpinan Sudono Salim anggap perlu tingkatan kualitas manusia lewat didikan manajemen, karena jangan-jangan kesenjangan sosial ekonomi itu disebabkan oleh mutu keterampilan tak merata – hingga seorang Sarimin tetap melata di bumi sedangkan Khou Kek Beng sanggup uncang-uncang kaki di awan. Beda kualitas memisahkan keduanya. Dan Dr. Mubyarto anggap kesenjangan itu disebabkan oleh sistem yang tidak kena, karena itu jalan ekonomi mesti diluruskan di atas rel Pancasila.

Memang betul Psikolog Arief Budiman anggap gagasan Mubyarto tak lain impian yang bakal kempes di tengah jalan; dan memang betul Ekonom Kwik Kian Gie tidak paham apa sebetulnya yang dimaksudkan Mubyarto. Bagaimana kalau Yayasan Prasetya Mulya Sudono Salim ambil prakarsa mendiskusikan Ekonomi Pancasila­-nya Mubyarto dalam satu forum nasional? Siapa tahu Sarimin dan Khou Kek Beng bisa kembali akrab seperti dulu kala.

Tempo, 5 Januari 1985


Melanggan artikel lewat email

Tidak ada komentar:

Posting Komentar